Pohon Tak Berguna
Gambar tinta: pohon tua berbatang berbonggol dengan dahan-dahan yang berkelok dan berpilin di bawah kanopi daun yang lebar dan teduh, berdiri sendiri di padang rumput yang luas.

Pohon yang Tak Berguna

Dari kitab Zhuangzi, Bab 1: Pengembaraan Bebassekitar 2 menit membaca

逍遙乎寢臥其下Berbaring dengan bebas dan tenang di bawahnya.

Zhuangzi punya seorang sahabat bernama Huizi. Huizi pandai berdebat dan suka menimbang segala sesuatu dari gunanya.

Pada suatu hari, Huizi berkata kepada Zhuangzi,

“Saya punya sebuah pohon besar. Orang-orang menyebutnya pohon chu.

Batangnya berbonggol-bonggol, tidak bisa diukur lurus dengan tali tukang kayu. Dahan-dahannya bengkok ke sana kemari, tidak bisa diukur dengan penggaris maupun jangka.

Pohon itu berdiri di pinggir jalan. Tapi tak ada satu pun tukang kayu yang mau meliriknya.”

Huizi diam sebentar, lalu melanjutkan.

“Kata-katamu itu, Zhuangzi, mirip pohon itu. Besar, tapi tak berguna. Karena itu semua orang meninggalkannya.”

Zhuangzi tidak tersinggung. Ia malah balik bertanya.

“Pernahkah kamu melihat kucing liar?

Ia merendahkan badannya, bersembunyi, menunggu mangsa lewat. Lalu ia melompat ke timur, melompat ke barat, ke tempat tinggi, ke tempat rendah. Ia begitu cekatan.

Tapi justru karena itu, suatu hari ia terjepit perangkap, lalu mati di dalam jaring.”

Zhuangzi melanjutkan.

“Lalu ada yak, sapi besar dari pegunungan. Tubuhnya begitu besar, seperti awan yang menggantung di langit. Ia memang besar. Tapi seekor tikus pun tak bisa ia tangkap.”

Kemudian Zhuangzi kembali pada pohon itu.

“Sekarang kamu punya pohon besar, dan kamu risau karena ia tak berguna.

Mengapa tidak kamu tanam saja di tempat yang tak ada apa-apanya, di padang yang luas dan lapang?

Di sana kamu bisa berjalan santai di sampingnya, tanpa perlu mengerjakan apa-apa. Kamu bisa berbaring dengan bebas dan tenang di bawahnya.

Tak akan ada kapak yang memendekkan umurnya. Tak ada yang akan mencelakainya.

Kalau ia memang tak bisa dipakai untuk apa pun, lalu apa yang perlu disusahkan?”

Renungan

Kita sering diukur dari gunanya. Apa yang bisa kita kerjakan, apa yang bisa kita hasilkan. Lama-lama kita sendiri ikut mengukur diri dengan cara yang sama.

Kucing liar itu cekatan. Ia selalu siap, selalu melompat, selalu mengejar. Mungkin kita pun begitu. Dan seperti kucing itu, kita bisa terjerat oleh kesibukan kita sendiri.

Pohon itu tidak berusaha menjadi lurus. Ia hanya tumbuh dengan bentuknya sendiri. Justru karena itu, tak ada yang menebangnya.

Zhuangzi tidak menyuruh Huizi memperbaiki pohonnya. Ia hanya mengajak sahabatnya berbaring di bawahnya.

Tidak semua hal harus berguna untuk berharga. Ada yang cukup menjadi tempat berteduh.

Diceritakan ulang dari teks asli Zhuangzi dan terjemahan James Legge (1891), keduanya domain publik, dengan bantuan AI. Bukan terjemahan akademis.

Bagikan kisah iniWhatsAppKartu Story Instagram